Pages

About Me

Chat Box

Senin, 29 April 2013

Kenapa dia lagi ? [CERPEN]

# ini CERPEN yang gue buat, yah sebenernya ini tugas sekolah bikin cerpen pakek sudut pandang orang ketiga
# tetep pantengin dan baca deh ini cerpen, semoga yang ngerasa jadi tambah ngenes -__-


Rasanya semua terjadi begitu cepat, Cristy berkenalan dengan Hilman lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosok Hilman hadir mengisi ruang-ruang kosong di hati Cristy.
            Tepat suara adzan subuh berkumandang. Cristy terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama, lalu melirik diam diam ke arah jam. Tak ada lagi Hilman yang memenuhi kotak inbox di handphonenya. Menatap langit-langit kamar yang sama. Tak ada yang berbeda di sini. Cristy masih bernapas, jantungnya masih berdetak, dan denyut nadinya masih bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati?


Tetapi sudah beberapa hari sejak peristiwa itu, saat pertengkaran hebat mereka memuncak pada kata putus, saat cekcok yang mereka alami berujung pada kata pisah. Sebenarnya Cristy masih mencintai Hilman, sebenarnya tak ada yang lain yang bisa membuat Cristy tersenyum, selain Hilman. Tapi, semua telah terlanjur terjadi, kata putus yang Cristy lontarkan dengan emosi kini menjadi sesal yang tak terganti.

            Dengan kenangan yang masih menempel dalam sudut-sudut luas otak, seakan membekukan kinerja hati Cristy. Dia berharap semua hanya mimpi, dan ada seseorang yang secara sukarela membangunkannya atau menampar wajahnya dengan sangat keras. Tetapi ini nyata dan dia harus menerima kenyataan ini.

Kebetulan hari ini hari minggu, libur yang penuh kegalauan. Larut dalam kebosanan yang memuncak, untung ada teman terbaik dia yang dateng ke rumah buat menghiburnya. Sebut saja nama nya Steven. Steven adalah seorang laki-laki kemayu, walaupun begitu dia teman kecil Cristy yang sangat dekat dengannya dan mengenal sifat  baik dan buruk dia.
“Cristy....Cristy,” panggil Steven dari depan rumah
“Iya, bentar. Masuk aja, Stev,” ujar Cristy.
Akhirnya Steven pun masuk ke dalam rumah dan menunggu Cristy keluar dari kamar.
“Eh, Cris. Kamu udah putus sama Hilman ya?”
“Kok tau?”
“Tapi kamu gak cinta lagi kan?,”
“Gak tau man, aku juga bingung” sahut Cristy dengan suara lembut.
“Terus, Udah berapa lama putusnya?” tanya hilman.
“Baru empat hari putus, emang kenapa Stev?”
“Kamu mau tau gak kemarin tuh aku ngeliat si Hilman bonceng cewek, gila gak baru empat hari putus dari kamu dia udah ngebonceng cewek! Cowok macem apa dia. Aku gak suka kalo teman baik aku dilakukan kayak gitu.” bentak Steven.
Serasa terbakar dalam api. Tubuh Cristy mulai melemah seketika Steven bicara begitu. Cristy tahu Steven pasti tidak pernah berbohong. Air mata Cristy pun mulai bercucuran.
“Kamu seriuskan, hm.”
“Ya ampun, Cris. Aku gak pernah ngarang-ngarang cerita. Maaf ya aku harus jujur sama kamu tentang ini. Supaya kamu gak galau lagi gara-gara cowok bajingan itu!,” jelas Steven.
“Makasih ya Stev, kamu udah ngasih tau tentang ini,” sedih Cristy dalam hati.
“Aku gak maksud buat kamu sedih kok, ini untuk kebaikan kamu juga. Aku gak mau cuma gara-gara cowok sok cakep itu kamu jadi Miss Galau,”
“Iya, Stev. Padahal hari-hari kemarin aku malah kepikiran dia terus dan sempat nyesel mutusin dia,”
“Kali ini kamu gak boleh nyesel udah mutusin dia. Kamu bisa cari cowok yang lebih baik di suatu saat nanti,”
“Tapi aku bingung, Stev. Dia dulu gak kayak ini,”
“Cristy, kamu harus sadar jangan terlarut dengan omongan kosong dia. Kamu tau alasan dia berubah? Gak tau kan,”
“Aku tau kok, mungkin karena sifat aku. Aku kayak gini karena aku butuh perhatian lebih,”
“Alah! Sifat kamu dari dulu kayak gini. Tapi tetep dia ngejer-ngejer kamu kan waktu dulu. Dulu kamu juga sering mutusin dia. Tapi dia gak mau kan?”
“Iya tapi itu dulu, Stev. Sekarang udah berubah. Mungkin karena hasutan teman-teman dia kali ya,”
“Bukan hanya hasutan, Cris. Karena dia sekarang udah nemuin cewek yang lebih dari kamu jadi dia malah sok eksis, sok ganteng, sok sempurna. Dia pasti dapet imbalan yang sesuai kok, Cris. Mana janji-janji dia ke kamu? Bohong kan, Cris. Janji dia tu BUSUK!,” bentak Steven.
“Bodohkah aku, Stev?” sahut Cristy melemah.
“Kamu gak bodoh kok, kamu hanya tertipu dengan cowok kayak dia. Aku juga gak nyangka dia kayak gitu. Penyebab yang membuat dia kayak gitu aku juga gak tau,” kata Steven mendingin kan keadaan.
“hmm. Aku bosan, aku gak mau dengar nama dia lagi! aku benci!” teriak Cristy
“Udah Cris, dia emang wajar buat di benci ! Oh iya Cris, aku pulang dulu ya kalo ada apa-apa jangan sungkan buat cerita ke sahabatmu ini. Sebisa mungkin aku pasti ngejagain kamu kok,”
“Makasih ya, Stev. Kamu emang sahabatku yang paling aku sayang. Kok pulang, aku kan jadi sendirian,”
“Aku banyak tugas dari sekolah, Cris.”
“Ya udah gak papa. Nanti cerita bareng lagi ya, Stev. Saat kamu gak sibuk lagi,”
“Tentu, Cris. Pulang dulu ya, Cris. Bye,”
“Iya. Bye,”
Tiga puluh menit, Cristi melamun dan menelaah pembicaraan Steven tadi. Benar kata Steven. Janji-janji Hilman memang terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum dia tepati. Dan dia hempaskan begitu bulus.
“Mungkin aku memang tak seberharga dulu di matamu. Dan aku tak harus jadi boneka yang selalu ikut aturanmu! Dimana letak hatimu! Aku tak bisa banyak bicara, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku merenung hingga akhirnya ku berfikir buat melupakanmu seutuhnya,” cela Cristy dalam hati dengan gelinang air mata yang mengalir begitu saja.
Hari-hari yang telah Cristy lalui masih sama, dia masih mengerjakan rutinitas. Dan dia mulai berusaha mencari pengganti Hilman. Begitu lama, banyak di antara cowok-cowok yang hanya berlalu lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama dan ada yang hanya ingin singgah saja di hati Cristy.
Semua berotasi, berputar dan berganti. Tetapi ada saja pikiran Cristy tertuju ke Hilman. Cristy juga sempat menulis di sebuah kertas yang isi nya : “Tak ada kamu yang dulu, tak ada kita yang dulu. Ya, semua kenangan memang berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan. Aku yakin aku bakal cari pengganti yang lebih baik dari kamu kok!,”
Celakanya, di saat Cristy berusaha melupakan dia. Tiba-tiba dia malah menelponnya. Getar handphone membuat Cristy cemas, antara mau mengangkat teleponnya atau malah tidak mengangkatnya. Akhirnya dia pun berpikir buat mengangkat telepon.
“Hallo,” sapa Hilman
“Iya, kenapa?” bentak Cristy
“Gak papa kok, sayang,”
“Gak usah panggil sayang. Kita udah putus,” jawab Cristy.
“Ya Allah, kok kayak gitu. Aku kangen sama suara kamu,”
“Oh, jadi kangennya baru sekarang ya?,”
“Gak kok. Kok malah gitu ngomongnya?”
“Belum cukup sama yang kamu lakukan selama ini?”jelas Cristy dengan lantang
“Ya Tuhan, maksud kamu apa sih aku gak pernah buat ngejahatin kamu. Sifat kamu yang malah buat aku ngejauh dari kamu. Aku pengen kamu sadar,”
“Ha? Sadar? Dulu sifat aku emang kayak gini. Terus kenapa masih mau aja ngehubungin aku. Aku bukan gantungan kunci yang bisa kamu mainin,”
“Egois! Kamu gak pernah berubah. Kamu mau menang sendiri. Aku gak tau kenapa kamu egois banget,”
“Please,ya! Kamu ngomong aku egois. Kamu lebih egois ya. Kita gak usah saling caci maki. Kita sadar diri aja,”
“Apa yang harus aku lakukan buat kamu berubah,”
“Alah, gak usah berpikir buat aku berubah. Kamu urus aja cewek lain. Kamu ubah dia aja. Gak usah ubah aku. Kamu juga berubah, kenapa aku gak boleh berubah,”
“Maafin aku, maaf, maaf, maaf. Aku emang salah. Aku menyesal, Cris.”
“Aku udah maafin kamu bahkan sebelum kamu minta maaf,” bentak Cristy dengan keras
“Tapi, kamu gak deket kan sama cowok lain selama kita putus,”
“Kalo aku deket sama cowok lain juga bukan urusan kamu. Kamu aja deket sama cewek lain. Terus kenapa aku gak boleh?,”
“Siapa, Cris. Cewek yang mana. Kamu tuh sok tau banget,”
“Alah, aku tau semuanya. Udah jujur aja,”
“Oke....oke, aku hari sabtu kemarin emang nganter si Putri pulang. Tapi aku gak suka sama dia, gak sama sekali.” tegas Hilman
“Kamu emang gatel!”
“Gatel kayak mana, Cris. Cuma nganter dia pulang aja,”
“Oh giliran aku gak boleh di anter cowok lain. Kamu boleh nganter cewek lain. Hahaha... enak ya jadi kamu. Oh iya kok aku malah gini, kita kan juga gak ada hubungan lagi,”cela Cristy
“Demi Allah, Cris. Aku gak pernah suka sama dia. Aku cintanya masih sama kamu dan akan selalu sama kamu !”
“Ha? Cinta? Lucu kali ya, Aku bukan gadis tolol yang bisa kamu permainkan lagi. Jauh-jauh dari pandanganku dan gak usah hubungin aku lagi. Sekarang aku udah bahagia sama hidupku.”
Sebenernya dalam hati Cristy, beda sama yang telah dia ucapkan ke Hilman. Tak terpungkiri namanya juga mantan. So pasti ada saja kenangan yang masih sulit buat dilupakan, seperti yang telah di alami oleh Cristy sekarang.
“Oke kalau itu mau kamu, aku akan menghilang tanpa kau minta, Cristy dan juga akan jauh-jauh dari peredaran kehidupan kamu,”
“Bagus, sadar diri! Terlalu banyak pertanyaan, aku muak sendiri!”
“Aku pengen kamu tau, aku tetap cinta dan sayang sama kamu, Cristy,”
Tut ... tuuuuut ... tuuuuuuuuut . Bunyi telepon yang telah di akhiri. Seketika hilman ubah pelangi menjadi buih. Dia buat remut hati Cristy menjadi semakin terasa. Sempat kala itu Hilman mengajak Cristy untuk kembali seperti dulu. Tapi entah mengapa Cristy ragu untuk kembali bersatu dengannya. Entah mengapa masih ada yang mengganjal hati dia. Entahlah... semua terjadi di luar pikiran dia. Mereka seperti di permainkan takdir, sedangkan dia dan Hilman tak sempat membaca aturan main.
Sebentar lagi tanggal 20 November ya, Seberapa pentingkah tanggal dua puluh? Ya, memang tak penting bagi siapapun, tapi bagi Cristy itu sangat penting. Bulan baru, harapan baru, mimpi baru, dan cita-cita baru. Dia hanya ingin Hilman tahu tak semua yang baru menjamin kebahagiaan dan tak semua yang disebut masa lalu akan menghasilkan air mata. Dia begitu yakin pada hal itu. Dia tahu rasanya melepas diri dari segala hal yang sebenarnya tak ingin dia tinggalkan. Dia juga semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab dan pembelajaran bagi dirinya kedepan.
separador

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers